This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Reviw Kamera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reviw Kamera. Tampilkan semua postingan

Apa itu Dynamic Range ?


Dynamic Range dalam fotografi adalah rentang perbedaan gelap dan terang dari sebuah scene. Kamera ternyata mempunyai batas kemampuan menangkap rentang perbedaan tersebut . Kamera Canon EOS 1-D Mark III memiliki dynamic range sekitar 11 stop (link).  Rentang 11 stop itulah yang tertangkap dengan baik detilnya di sensor kamera , di luar itu detilnya akan gelap/black atau washout. Nah , padahal di dunia nyata .. scene yang akan kita foto amat sering memiliki rentang stop lebih dari 11 stop. Misal nih : foto di siang hari kenapa langitnya putih , atau kenapa ketika langitnya biru/detil tapi orang yang difoto jadi gelap ? itu tanda dari efek dynamic range .
Kekurangan itu ada tip / trik untuk mengatasinya . Diantaranya adalah trik High Dynamic Range (HDR) yang sedang populer , penggunaan Gradual ND Filter (seperti foto saya ini) , Multi Exposure . Lain kali lah kita coba diskusi , pokoknya cara kerja dynamic range seperti diatas.
Dynamic Range
Dynamic Range
Teknik Foto Siluet
Kembali ke teknik memotret siluet , apa hubungannya dengan dynamic range ? Kekurangan kamera karena efek dynamic range ternyata justru menjadi keunggulan karena kita bisa memotret siluet. Main logika saja , kalau kita memotret scene yang memiliki rentang gelap dan terang yang lebar ( misal sunset , sunrise )  , karena efek dynamic range maka beberapa bagian dari foto akan tampak gelap/hitam. Nah itulah siluet yang kita cari.
Setting kamera yang digunakan sebenarnya tidak terlalu pakem. Pake F aperture berapa , shutter speed berapa , ISO berapa .. itu mah terserah sampeyan . Yang penting nih .. metering pada bagian yang terang. Lihat foto dibawah , saya posisikan metering di sekitaran matahari , kalau ditengah matahari pasti yg lainnya jd gelap belaka saking kuatnya intensitas cahaya  .
beach kids
beach kids
Pada foto diatas saya menggunakan metering Spot karena lebih mudah mengarahkan titik metering . Metering lainnya ( Average dan Matrix ) tetap bisa digunakan. Malah menurut saya lebih praktis menggunakan metering tersebut ( Average dan Matrix ) . Peluang berhasilnya tinggi , kalau exposurenya kurang pas tingga di compensate 1-2 stop.
Kebalikan dari konsep siluet mgkn adalah backlighting . Tinggal dibalik saja sebenarnya , cari background yang gelap kontras terhadap obyek yang akan kita foto. Saya pernah bahas di Backlight
Tip memotret Siluet
  • Latihlah mata kita untuk bisa melihat scene . Lihat perbedaan terang dan gelap , dari sana kita bisa tentukan apakah bisa memotret sebuah siluet atau tidak. Memang , cara mudah mencari siluet adalah ketika sunrise atau sunset , posisi matahari yang rendah mempermudah terciptanya sebuah siluet. Tapi sebenarnya tidak harus dengan matahari , cukup dengan sumber cahaya yang terangpun sudah bisa . Ingat , asal rentangnya lebar .. pasti bisa siluet
Siluet Daun
Siluet Daun
  • Upayakan agar obyek yang akan menjadi siluet tidak tumpang tindih. Kalau tumpang tindih nanti pemirsa fotonya jadi bingung. Ini sebenarnya obyek apa sih ? jadi mirip kartu test yg biasa diberikan psikolog :p
  • Do some kicking !! hehe maksudnya action dikit lah . Karena kita metering di bagian cahaya yang sangat terang otomatis shutter speed menjadi tinggi , cukup cepat untuk menangkap action kita seperti lompat , terjun , kungfu kick ?
  • Bagaimana agar foto orang tetap muncul detilnya ? triknya , gunakan flash . Tidak ada cara lain. Tetap metering pada bagian yang terang , nyalakan flash , dan jepret .

Fuji X-S1, kamera premium seri X dengan sensor EXR 2/3 inci


Masih ingat Fuji X100 dan X10? Keduanya adalah kamera seri X dari Fuji yang digolongkan kedalam seri premium dan dibuat di Jepang. Kini Fuji menghadirkan lagi produk ketiga di seri X yaitu Fuji X-S1 yang memiliki bentuk sangat mirip kamera DSLR, namun dengan lensa yang tidak bisa dilepas. Sepintas X-S1 agak mirip dengan kamera superzoom Fuji lain khususnya HS-20, tapi yang membedakan disini Fujix X-S1 punya kualitas material bahan kelas atas dipadu dengan sensor EXR berukuran cukup besar. Sebagai lensanya diberikan lensa Fujinon 24-624mm alias 26x zoom optik.
Fuji X-S1 masuk di kelompok kamera prosumer yang mengisi celah antara kamera DSLR dan kamera biasa. Dibanding merk lain, Fuji termasuk yang konsisten dari dulu membuat kamera prosumer yang berkualitas, khususnya dengan lensa yang bisa di-zoom secara manual lewat putaran tangan. Dengan begitu, hasrat memiliki kamera ’serius’ tidak harus diwujudkan dengan membeli kamera DSLR, cukup dengan kamera seperti Fuji X-S1 ini dan dijamin tidak akan dipusingkan lagi dengan daftar lensa yang harus dibeli. Karena lensa di Fuji X-S1 ini sudah sangat mumpuni untuk berbagai kebutuhan fotografi seperti wideangle hingga telefoto, berkat digunakannya lensa Fujinon 24-624mm f/2.8-5.6 yang diameter filternya 62mm.
fuji-x-s1-depan
Dari spesifikasi lensa mungkin tidak terlalu menarik karena Fuji HS20 pun sudah memiliki lensa 24-720mm alias 30x zoom. Tapi yang membedakan disini adalah sensor EXR di HS20 berukuran 1/2 inci yang cukup kecil untuk mengimbangi desain lensa HS20, sedangkan X-S1 punya sensor EXR berukuran 2/3 inci yang sudah lumayan besar untuk ukuran kamera non DSLR. Lagipula HS20 memiliki resolusi sensor 16 MP sedang X-S1 justru ‘hanya’ 12 MP (saat ini banyak produsen kamera yang sudah kembali memakai sensor 10-12 MP daripada dulu yang memakai sensor 16-18 MP akibat noise yang terlalu parah).
fuji-x-s1-blkg
Banyak fitur yang dimiliki Fuji X-S1 yang tergolong mengesankan dan kami meyakini kalau produk ini akan menjadi kamera prosumer terbaik di tahun 2011 ini, seperti :
  • kualitas bodi yang sangat baik
  • lensa manual zoom, 24-624mm f/2.8-5.6 dengan 9 bilah diafragma
  • sensor 12 MP EXR CMOS berukuran 2/3 inci
  • burst cepat sampai 10 fela bidik besar dps
  • jendengan 1,44 juta titik
  • layar LCD resolusi 460 titik berukuran 3 inci yang bisa dilipat
  • Full HD video 30 fps dengan manual zoom dan external mic
  • mode manual PASM dan RAW, mode Film simulation, mode Macro hingga 1cm
  • ada fitur 360° Motion Panorama
  • flash TTL dengan flash hot shoe
Menariknya, berkat bodinya yang banyak mengandung komponen logam, kamera ini menjadi sangat berat hingga bobotnya hampir satu kilogram atau sama dengan Nikon D700 tanpa lensa. Belum ada info harga untuk kamera Fuji X-S1 ini, tapi kami memprediksi harganya akan seberat bobotnya alias cukup mahal. Sekitar 7 juta mungkin?

DSLR entry level Nikon D5000


Menyusul jejak Canon yang meluncurkan EOS 500D, Nikon juga meluncurkan DSLR entry levelbaru bernama D5000. Produk anyar ini merupakan penerus dari D60 yang mengikuti tren DSLR modern yaitu menyertakan fitur HD movie 720p - 24 fps dan tentunya live view. Namun demikian bukan hanya penambahan fitur movie ini saja yang membuat D5000 ini demikian spesial, tapi karena Nikon telah memberi banyak peningkatan fitur dan spesifikasi dari D60 ke D5000, dengan banderol harga yang masih bisa dibilang terjangkau untuk ukuran kamera DSLR pemula yaitu sekitar 8 jutaan.
d5000_18_55_slup_fr34l_l
Di jajaran kamera Nikon DX, saat ini line-up yang disusun oleh Nikon meliputi tiga kelompok, yaitu kelas semi-pro (diisi oleh D300), kelas menengah (diisi oleh D90-plus movie mode) dan kelas pemula (yang baru saja diisi oleh D5000, sebelumnya D60). Uniknya, D5000 ini hadir setelah kehadiran D90 di tahun 2008 silam, dan D90 juga hadir setahun setelah kehadiran D300 di tahun 2007. saat D90 diluncurkan, banyak anggapan kalau Nikon melakukan kesalahan dengan membuat produk yang akan ‘mematikan’ penjualan D300 karena banyaknya kesamaan fitur. Namun anggapan itu lambat laun sirna karena segmentasi market keduanya berbeda. Kini Nikon kembali melakukan hal serupa saat meluncurkan D5000 karena dia hadir dengan banyak membawa banyak kesamaan dengan D90 pada spesifikasinya, sehingga dikuatirkan penjualan D90 akan terganggu oleh hadirnya D5000 ini.
nikond5000_flip-poses_700pix
Bagaimana tidak, Nikon D5000 ini merupakan DSLR entry level yang sarat fitur dan tidak ubahnya seperti melihat spesifikasi dari D90 yang dijual beberapa juta rupiah lebih mahal. Kita simak saja headline news dari Nikon D5000 :
  • Sensor : format DX dengan crop factor 1,5 x, memakai sensor baru CMOS resolusi 12 MP (D60 memakai CCD 10 MP) yang sama persis dengan yang dipakai di D90. Maka itu kinerja ISO keduanya (D5000 dan D90) pun sama dengan rentang 200 hingga 3200  plus Lo-1 dan Hi-1. Pun pada sensor ini telah dilengkapi sistem anti debu.
  • Engine : memakai Expeed engine 12 bit ADC plus active D-lighting dan koreksi otomatis untuk lateral chromatic aberrations layaknya pada D90. Tersedia juga setting Picture Control (Standard, Vivid, Neutral, Monochrome, Portrait dan Landscape) serta soft filter.
  • Shutter : memakai shutter unit yang teruji hingga 100.000 kali (atau dua kali lipat dari shutter unitD40/60) dan nilai shutter count D5000 ini persis sama seperti pada D90. Hanya saja D90 mampu menjepret hingga 4,5 fps, sementara D5000 ini sedikit lebih lambat dengan 4 fps (namun masih jauh lebih baik daripada D60 dengan 3 fps).
  • Modul AF : Multi CAM-1000 dengan 11 titik AF (ya, sebelas) dengan satu center cross point AF (di D40/D60 hanya 3 titik AF). Terdapat mode 3D AF tracking untuk objek foto yang selalu bergerak, sama seperti yang terdapat pada D90. Tersedia juga contrast detect AF bila memakai live view.
  • D-movie : merekam video HD beresolusi 1280 x 720 piksel hingga maksimum 5 menit  dengan frame rate 24 fps, AVI/M-JPEG, audio mono. layaknya D90, D5000 ini tidak bisa auto fokus saat merekam video, sehingga pemakailah yang harus mengatur manual fokus pada lensa.
  • Layar Vari-angle LCD : pertama dalam sejarah DSLR Nikon, layar LCD berukuran 2,7 inci yang bisa dilipat dan diputar. Dengan demikian, memotret memakai mode live view ataupun merekam video bisa lebih mudah dan nyaman, meski dalam sudut yang sulit.
  • Bonus lain : HDMI port dan sudah mendukung GPS eksternal untuk geotagging.
Adapun hal-hal yang masih sama (atau mengalami sedikit peningkatan / penurunan) dari sang pendahulu (Nikon D60) diantaranya :
  • Desain bodi : kecil, ringan, berbahan plastik, dengan ukuran 127 x 104 x 80 mm dan 55 gram lebih berat dari D60.
  • Tanpa motor fokus di bodi : ya, lensa yang bisa autofokus adalah lensa dengan motor AF seperti Nikon AF-S atau Sigma HSM.
  • Memakai lensa kit yang sama : 18-55mm VR (pada D90 lensa kitnya 18-105mm VR).
  • Modul light meter : 420-segment RGB, masih sama seperti D60 dan bahkan D90 sekalipun (untuk modul kelas atas dengan 1005-segment hanya ada di D300, D700 dan D3).
  • Memakai viewfinder cermin (0,78 x, 95% coverage) yang tidak seterang viewfinder jenis prisma seperti yang terdapat di D90.
  • Tanpa top status LCD dan hanya satu dial-wheel di dekat jempol (di D90 ada dua dial-wheel).
  • Flash sync : 1/200 detik (masih unggul D40 dengan 1/500 detik) dan punya GN 12.
Tak dapat dipungkiri, dengan meluncurkan D5000, Nikon seakan ingin ingkin menguasai kembali pasar DSLR entry level yang telah direbut oleh Canon (melalui EOS 1000D dan EOS 450D) dengan membuat produk dengan spesifikasi tinggi namun harga terjangkau. Sebuah langkah tepat dari Nikon.

Nikon D3S dan Canon EOS 1D mark IV


Gajah bertarung dengan gajah, mungkin itulah istilah yang bisa mewakili perang dua merk DSLR kondang, Nikon vs Canon, saat keduanya meluncurkan kamera DSLR tercanggih dan terbarunya. Seperti biasa, saat salah satu meluncurkan produk baru, maka satu lagi segera menyusul. Kali ini Nikon lebih dahulu meluncurkan versi penerus D3 dengan fitur video yang bernama D3Sdan disusul keesokan harinya dengan produk baru dari Canon yang bernama EOS 1D mark IV. Keduanya merupakan DSLR berbadan besar dengan vertical grip terintegrasi, material bodi kokoh berbalut magnesium alloy, dan keduanya sudah dilengkapi fitur HD movie.
d3s-vs-1div
Beberapa hal yang menarik dari Nikon D3S :
  • format FX (full frame) namun resolusi tergolong rendah yaitu 12 MP saja (DSLR full frame merk lain sudah mencapai tingkat 24 MP) sehingga noise bisa ditekan serendah mungkin dan ISO tertinggi yaitu ISO 102.4000 masih layak dipakai.
  • cocok untuk pro yang perlu memotret kecepatan tinggi, berkat 51 titik AF dan 9 fps burst mode
  • mampu merekam HD movie 24 fps, sensor FX yang sensitif mampu merekam video meski cahaya sekitar sangat redup
Adapun hal-hal utama yang diperkenalkan Canon pada EOS 1D mark IV :
  • format APS-H (crop factor 1.3x)  resolusi 16 MP
  • 45 titik AF dengan 39 diantaranya berjenis cross type
  • dual Digic IV prosesor dengan 14 bit AD conversion
  • merekam HD movie 1080i dengan 24 atau 30 fps
  • sangat cepat dengan 10 fps burst mode
Bila anda seorang profesional, anda mestinya akan merasa dimanjakan dengan pilihan kamera yang ada. Mengapa? Karena keduanya punya kemiripan spesifikasi yang begitu banyak, seperti :
  • fitur manual lengkap (tentu saja)
  • usia shutter 300.000 kali jepret
  • LCD 3 inci, 920ribu piksel
  • finder 100%
  • ISO maksimum 102.400
  • dual slot memori
  • live-view, anti debu dan HD movie
  • keduanya tanpa lampu kilat built-in
  • harga bersaing, sekitar 50 juta rupiah

Canon EOS-1D X


Hari ini Canon meluncurkan kamera DSLR flagship alias yang terbaik yaitu EOS-1D X dengan sensor full frame CMOS 18 MP. Dengan kehadiran kamera ini maka Canon tidak lagi memisahkan segementasi di kamera seri 1D seperti dulu (1D untuk kecepatan dan 1Ds untuk resolusi tinggi). Kini EOS-1D X menjadi kamera yang cukup secara resolusi dan cepat secara kinerja, kurang apa lagi? Sambil menunggu kamera ini hadir di bulan Maret 2012, simak dulu fiturnya disini.
eos-1d_x
Di era sebelumnya, Canon memiliki EOS-1Ds mark III dengan sensor 21 MP yang cocok untuk dipakai di studio serta EOS-1D mark IV dengan sensor APS-H 16 MP yang disukai fotografer olah raga karena mampu memotret sampai 10 fps. Pemakaian sensor APS-H (crop factor 1,3x) pada EOS-1D memang agak tanggung karena kita umumnya hanya familiar dengan sensor APS-C (crop factor 1,6x). EOS-1D X hadir seperti sebuah peleburan dua segmen kamera elite ini dengan sensor full frame, resolusi tinggi 18 MP dan kinerja cepat 12 fps.
Chuck Westfall, Technical Advisor pada Canon USA’s Pro Engineering and Solutions Division mengakatan :
‘The new sensor has 16-channel, dual line readout, compared to 8-channel, single line designs in the previous generation of chips.’
Selain itu beberapa fitur andalan lain diantaranya :
  • 61-Point High Density Reticular AF termasuk 41 cross-type titik AF
  • 100,000-pixel RGB metering sensor
  • Dual DIGIC 5+ Image Processors
  • continuous shooting sampai 14 fps untuk JPEG (dengan mirror diangkat)
  • bisa sampai ISO 204.800
  • dual joystick di bagian belakang
  • full HD dengan kompresi minimum (memory card 16 GB akan penuh hanya dalam waktu 6 menit)
EOS-1D X juga menyediakan enam preset untuk memilih titik AF  yaitu Spot, Single Point, Single Point with surrounding four points, Single Point with surrounding eight points, Zone selection dan Automatic AF point selection seperti gambar di bawah ini :
afareas
Rencananya kamera ini akan dijual seharga 65 juta rupiah, berminat?

Paket Hemat Fotografi Pemula


Banyak sekali pembaca yang tanya kepada saya, bagus mana Canon 1100D atau Nikon D3100. Jawaban saya selalu diplomatis, keduanya bagus tinggal bagaimana kita memaksimalkan alat yang akan kita beli nantinya. Karena memilih DSLR (walaupun yang kelas pemula) tidak semudah membeli ponsel, kita perlu memperhitungkan rencana ke depan seperti ingin dipakai buat apa (nantinya akan menentukan lensa apa saja yang perlu dikoleksi), aksesori apa yang perlu dibeli dan juga lingkungan kita lebih cenderung ke merk apa. Kali ini saya sekedar berikan gambaran untuk memudahkan dalam membangun sistem kamera yang murah meriah, antara EOS 1100D dan Nikon D3100.
Bila anda belum mengenal betul perbedaan 1100D dan D3100, simak ceritanya disini . Saya tidak akan mengulangnya lagi di tulisan ini. Disini saya hanya akan memberi rekomendasi alat fotografi yang terjangkau dan berapa kira-kira dana yang harus disiapkan.

Canon EOS 1100D

Kamera DSLR pemula dengan fitur paling basic ini dijual di harga 5,2 juta dengan lensa kit 18-55mm. Bila anda membeli bodi saja tanpa lensa kit, harganya hanya 4,5 juta saja. Pilihan lensanya (bila membeli bodi saja) bisa Tamron 17-50mm f/2.8 seharga 3 juta yang meski secara rentang fokal hampir sama dengan lensa kit, namun secara diafragma jauh lebih besar dan konstan dengan bukaan besar f/2.8. Contoh foto di bawah adalah EOS 1000D dengan lensa Tamron 17-50mm.
 
Sebagai lensa telenya, apa lagi yang lebih baik dan lebih murah dari EF-S 55-250mm IS yang dijual di harga 2 juta. Dengan lensa ini anda bisa berkreasi dengan berbagai fokal tele dan cukup terbantu dengan adanya stabilizer IS di lensa.
 
Untuk kondisi low light dan demi dapat bokeh yang baik, bila anda hanya punya lensa kit, saran saya ambillah lensa fix termurah dan terpopuler EF 50mm f/1.8 yang dijual dengan harga kurang dari 1 juta. Namun bila anda punya lensa Tamron 17-50mm f/2.8, rasanya anda tidak perlu lagi membeli lensa fix 50mm f/1.8.
 
Guna menghasilkan foto dengan pencahayaan terbaik, gunakan lampu kilat eksternal. Saran utama dari saya belilah Speedlite 320EX seharga 2 juta, yang punya kelebihan mampu menembakkan sinar LED kontinu yang berguna sebagai video light. Namun bila dana jadi kendala, tidak ada salahnya membeli flash murah merk lain semisal Yongnuo YN468 yang dijual kurang dari 1 juta. Yongnuo ini cukup favorit untuk strobist, yang tipe YN468 sudah bisa TTL dan bisa zoom.
Jadi kurang lebih rekapitulasi biayanya :
  • Bodi saja : 4,5 juta
  • Lensa Tamron 17-50mm : 3 juta
  • Lensa tele 55-250mm : 2 juta
  • Flash 320EX : 2 juta
Total sekitar 11,5 jutaan.
Untuk skenario lainnya :
  • Bodi + kit : 5,2 juta
  • Lensa tele 55-250mm : 2 juta
  • Lensa fix 50mm f/1.8 : 1 juta
  • Flash 320EX : 2 juta
Total sekitar 10,2 jutaan.

Nikon D3100

Agak berbeda dengan Canon, anda hanya bisa membeli Nikon D3100 dengan lensa kit AF-S 18-55mm seharga 5,2 juta. Lensa kit Nikon sudah mencukupi untuk kebutuhan dasar dan kualitasnya pun relatif baik. Anda tinggal pertimbangkan lensa lain untuk kebutuhan tele dan di kondisi low light. Sebagai lensa tele rekomendasi saya adalah AF-S 55-300mm VR seharga 3 juta yang bakal menjadi pasangan serasi dari lensa kit seperti contoh gambar di bawah ini. Namun bila dana jadi hambatan, lensa AF-S 55-200mm VR pun bisa dibeli dengan selisih harga 1 juta lebih murah. Jangan beli lensa tele tanpa VR meski lebih murah beberapa ratus ribu.
Untuk lensa fix alias lensa prime, anda bisa memilih salah satu dari AF-S 35mm f/1.8 atau AF-S 50mm f/1.8 yang kebetulan harga jualnya hampir sama di kisaran 2,4 juta. Pilihannya tinggal apakah anda lebih suka fokal yang lebih wide (35mm akan ekivalen 50mm di format DX) atau lebih tele (50mm akan ekivalen 80mm di format DX). Manapun yang dipilih, keduanya adalah lensa handal di low light dan bahkan yang 50mm bisa dipakai juga di kamera FX.
 
Saran flash eksternal dari saya adalah Speedlight SB700 yang harganya 3 juta. Flash ini adalah penerus dari SB600 yang populer namun sudah diskontinu. Bila terasa terlalu mahal, bisa juga pakai flash merk Nissin Di866 yang harganya 2,2 juta atau yang paling murah cobalah Yongnuo YN467 yang masih bisa TTL di Nikon seharga 800 ribu saja.
Bila kita hitung-hitung :
  • Bodi + lensa kit : 5,2 juta
  • Lensa tele AF-S 55-300mm : 3 juta
  • Lensa fix : 2,2 juta
  • Flash SB700 : 3 juta
Total sekitar 13,4 jutaan.
Bila ingin lebih murah bisa dicoba paket lain :
  • Bodi + lensa kit : 5,2 juta
  • Lensa tele AF-S 55-200mm : 2 juta
  • Lensa fix : 2,2 juta
  • Flash YN467 : 800 ribu
Total sekitar 10,2 jutaan.
Nah itulah gambaran atau estimasi biaya untuk merancang sistem kamera dengan dana terbatas. Selain itu masih perlu dipertimbangkan juga hal-hal pendukung seperti :
  • tripod (misal Velbon CX300 seharga 300 ribu)
  • filter (UV, ND, grad ND, CPL) total bisa 1-2 jutaan
  • memory card, belilah yang kecepatan tinggi (minimal kelas 6)
  • wireless trigger (bila ingin flash off-shoe/strobist)
  • tas kamera (harga bervariasi)
  • dry box untuk menyimpan kamera di rumah (jangan disimpan di dalam tas)
  • baterai cadangan bila perlu

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More